Selain Tari Perang, Ini Tarian Khas dari Maluku

No comment 189 views
Tari perang dari Maluku

 

Indonesia sejak lama dikenal dengan keragaman seni dan budayanya, salah satunya adalah berupa tari-tarian tradisional. Tari- tari yang menjadi ciri khas suatu bangsa di Indonesia, merupakan peninggalan dari nenek moyang. Misalnya saja tari Cakalele atau yang biasa dikenal dengan nama tari perang dari Maluku, merupakan peninggalan nenek moyang yang semula ditujukan untuk memberikan semangat pada para pejuang Maluku yang akan menuju ke medan peperangan.

Akan tetapi saat ini tari perang sudah tidak lagi dipersembahkan bagi para pejuang, namun kebanyakan hanya digunakan pada saat melaksanakan upacara-upacara adat, atau untuk menyambut tamu-tamu yang datang untuk berwisata ke Maluku.

Namun perlu diketahui juga, bahwa bukan hanya tari perang (Cakalele) yang merupakan tarian tradisional masyarakat di Maluku. Masih ada beberapa tarian lagi yang telah menjadi ciri khas seni dan kebudayaan masyarakatnya. Nah, untuk lebih jelasnya mengenai hal ini, berikut beberapa tarian tradisional lainnya dari Maluku.

1. Tari Saureka-reka

Tari saureka-reka atau biasa juga disebut dengan tari gaba-gaba, merupaan tari tradisional masyarakat maluku yang lebih miri dengan permainan engklek. Tarian ini membutuhkan konsentrasi yang tinggi dengan ketepatan dalam geraknya. Dalam tarian ini, si penari harus melompati Gaba-gaba yang dihentak-hentakkan, sambil mengikuti irama musik TIFA.

Disini kelincahan kaki pemainnya sangat dibutuhkan. Sebab, jika tidak, maka kaki bisa saja terjepit. Biasanya tarian ini dilakukan oleh 8 orang penari dimana 4 orang diantaranya adalah laki-laki yang menghentakkan gaba-gaba, sedangkan 4 orang yang terdiri wanita sebagai penari/pemainnya.

Di zaman sekarang tarian ini hanya bisa ditemukan pada saat acara-acara adat saja, sebagai bentuk syukur kepada sang pencipta atas kehidupan yang diberikan dan sebagai ungkapan syukur atas kesuburan lahan-lahan pertanian/perkebunan.

2. Tari Lenso

Lenso merupakan tarian mudi-mudi dimana penarinya adalah wanita-wanita muda. Biasanya tari Lenso dilakukan oleh 6 hingga 10 orang setiap penampilannya. Tarian ini menggunakan alat bantu berupa selendang/saputangan, yang dalam bahasa setempat disebut dengan Lenso. Dimana fungsi lenso sendiri sebagai alat persetujuan atau penolakan.

Dalam adat istiadat masyarakat Maluku, tari Lenso ini biasa digunakan oleh muda-mudi untuk mencari jodoh bagi yang masih lajang/bujang. Jika Lenso yang diberikan oleh penari diterima oleh pemuda, maka itu berarti cintanya itu diterima. Dan begitu sebaliknya, jika Lenso dibuang, berarti lamaran si penari di tolak.

3. Tari Orlapei

Di tradisi masyarakat Maluku, tarian Orlapei biasa digunakan untuk menyambut tamu-tamu kehormatan yang datang ke Maluku. Ini merupakan wujud syukur atau rasa terima kasih masyarakat karena tamu sudah mau datang jauh-jauh ke desa/kampung mereka. Biasanya tarian ini diiringin dengan musik tradisional (tifa), suling, ukulele dan gitar. Dengan musik yang penuh semangat, diharapkan setiap tamu yang menonton akan merasakan kegembiraan dari masyarakat Maluku.

Tarian Orlapei ini biasa dilakukan berpasangan (muda-mudi). Gerakan tarian yang energik, serasi dan dinamis, menggambarkan bentuk persahatan, perdamaian dan kebersamaan. Dalam arti lain, tarian ini juga sebagai ungkapan hati yang tulus dari masyarakat setempat, pada tamu yang datang berkunjung ke desa/kampungnya.

4. Tarian Bambu Gila

Hampir mirip dengan yang ada di daerah Jawa, Maluku juga memiliki tarian yang beraroma mistis yakni bambu gila. Tarian ini disebut bambu gila, karena memang menggunakan alat berupa bambu yang sudah diberikan sesajian oleh sang Pawang. Penari bambu gila, akan bergerak tak tentu arah mengikuti gerakan bambu itu sendiri. Untuk itu, dibutuhkan fisik yang kuat agar dapat menari dengan bambu gila.

Leave a reply "Selain Tari Perang, Ini Tarian Khas dari Maluku"