Royal Golden Eagle Mendukung Upaya Pencapaian Sustainable Development Goals

Royal Golden Eagle
Source: Weforum.org

 

Sesuai dengan filosofi bisnisnya, Royal Golden Eagle (RGE) selalu berupaya memberi manfaat positif bagi pihak lain mulai pelanggan, masyarakat, negara, hingga bumi. Ketika ada upaya untuk melakukannya seperti Sustainable Development Goals (SDGs), RGE akan mendukungnya.

SDGs merupakan tujuan yang dicanangkan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk kehidupan yang lebih baik. Ada 17 target global yang dipatok di dalam SDGs. Namun, jika ditelaah lebih detail, terdapat hingga 169 tujuan yang hendak dicapai.

Cakupan target SDGs sangat kompleks. Beragam aspek mulai dari kelaparan, kemiskinan, kesehatan, pendidikan, perubahan iklim, kesetaraan gender, hingga kelestarian lingkungan masuk di dalamnya. Hal itu masih ditambah dengan target terkait air, energi, sanitasi, serta keadilan sosial juga tercakup.

Kehadiran SDGs sebenarnya sebagai reaksi atas kegagalan Millenium Development Goals (MDGs). Ini adalah upaya yang dicanangkan PBB pada tahun 2000 yang hendak digapai pada tahun 2015.

Ada delapan target dalam (MDGs) yang hendak digapai. Namun, kenyataannya tujuan tidak tercapai hingga tenggat waktu pada tahun 2015 dilewati.

Banyak faktor yang membuat MDGs sulit digapai. Pembedaan target antara negara maju dan negara lain dirasa menyulitkan. Belum lagi ketiadaan upaya untuk melibatkan pihak lain di luar negara seperti swasta. Hal itu tambah menyulitkan pencapaian target.

Belajar dari itu, SDGs dicanangkan. Berbeda dengan inisiatif sebelumnya, SDGs membuka pintu selebar-lebarnya bagi pihak lain di luar negara untuk berkolaborasi. Swasta jadi bisa terlibat dalam upaya meningkatkan taraf hidup manusia secara umum ini.

Hal ini kemudian disambut baik oleh Royal Golden Eagle. Grup yang berdiri dengan nama Raja Garuda Mas ini mendukung penuh upaya pencapaian target-target SDGs.

Banyak cara yang ditempuh oleh RGE. Anak-anak perusahaannya selalu berkiprah untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat di sekitarnya. Salah satunya APRIL Group. Seperti ditunjukkan oleh direkturnya, Anderson Tanoto, unit bisnis RGE yang bergerak dalam industri pulp dan kertas ini mengadaposi model kerja Production-Protection.

Lewat sistem kerja ini, APRIL tidak hanya mampu menjaga level produksinya. Per tahun, mereka sanggup menghasilkan pulp hingga 2,8 juta ton. Sedangkan untuk kertas, perusahaan yang berbasis di Pangkalan Kerinci, Riau, ini mampu memproduksi sampai 850 ribu ton dalam waktu setahun.

Namun, APRIL tidak hanya melakukan proses produksi belaka. Belakangan mereka ganti memberi. Sembari memanfaatkan sumber daya, APRIL melakukan perlindungan terhadap alam dengan menjalankan program konservasi.

Tidak mau setengah-setengah dalam melindungi alam, APRIL berani merilis program Satu Banding Satu. Ini adalah komitmen dari APRIL untuk melakukan perlindungan seluas lahan yang digunakan untuk produksi. Sebagai contoh, jika ada lahan seluas satu hektare yang dipakai untuk produksi, APRIL akan menjalankan konservasi di lahan seluas satu hektare pula. Berkat itu, ada hutan bernilai tinggi seluas 250 ribu hektare yang terlindungi.

Langkah ini terbilang berani karena belum pernah ada yang melakukannya. "Saya rasa belum ada perusahaan di dunia yang berani menerapkan komitmen satu banding satu ini, ini baru APRIL," terang Presiden Direktur PT Riau Andalan Pulp and Paper (unit operasional APRIL, Red.), Tony Wenas, di Go Riau. 

Akan tetapi, supaya alam semakin terlindungi, APRIL mendukung program pemulihan lahan yang sudah terdegradasi di kawasan Semenanjung Kampar. Mereka memberi dukungan penuh kepada kegiatan yang dinamai sebagai Restorasi Ekosistem Riau (RER).

Untuk mendukung RER, APRIL berkomitmen untuk mengucurkan dana hingga 100 juta dolar Amerika Serikat selama sepuluh tahun sejak program dimulai pada 2015. Harapan mereka lahan gambut seluas 150 ribu hektare di Semenanjung Kampar bisa pulih seperti sedia kala. 

MELIBATKAN MASYARAKAT

Royal Golden Eagle
Source: APRIL Asia

 

Kunci utama keberhasilan pencapaian SDGs terletak pada kontribusi berbagai pihak. Semakin banyak yang terlibat, peluang target tercapai bertambah besar. Ini pula yang membuat Royal Golden Eagle sering menjalankan program kolaboratif dengan melibatkan pihak lain seperti masyarakat, pemerintah, serta pemangku kepentingan lain.

Contoh nyata adalah Program Desa Bebas Api yang digulirkan oleh APRIL. Mulai dirintis sejak 2014 dan resmi bergulir pada 2015, kegiatan ini adalah upaya untuk menekan tingkat kebakaran lahan dan hutan dengan menekankan terhadap pencegahan.

Oleh APRIL, masyarakat diajak untuk menjaga wilayahnya dari bahaya kebakaran. Anak perusahaan grup yang pernah bernama Raja Garuda Mas ini diberi insentif ketika sanggup melakukannya. Hal itu diberikan sebagai daya tarik supaya mau berpartisipasi. Wujud imbalan berupa dana hibah untuk pembangunan infrastruktur atau pemberdayaan masyarakat desa sebesar Rp50 juta hingga Rp100 juta per tahun.

Berkat upaya ini, tingkat kebakaran lahan dan hutan mampu ditekan. Pada tahun pertamanya saja, lahan yang terbakar di kawasan yang berpartisipasi hanya 50 hektare. Ini penurunan besar karena sebelumya di sana api sempat melalap lahan seluas 531 hektare.

Keberhasilan ini membuat banyak pihak yang tertarik untuk mengadopsi Program Desa Bebas Api. Salah satunya Aliansi Bebas Api yang berdiri dengan basis program yang digagas oleh APRIL tersebut.

Aliansi Bebas Api merupakan upaya kolaboratif dari berbagai korporasi untuk menekan tingkat kebakaran lahan dan hutan. Lewat kegiatan itu, mereka bisa berbagi pengetahuan, pengalaman, serta sumber daya untuk melawan kebakaran.

Upaya ini jelas berdampak positif. Jangkauan lahan yang dijaga dari ancaman api semakin luas. Sampai saat ini ada 218 desa di Indonesia yang wilayahnya dilindungi dari kebakaran. Luas lahan yang dicakup mencapai 1,5 juta hektare.

APRIL bukan satu-satunya unit bisnis Royal Golden Eagle yang mendukung pencapaian SDGs. Asian Agri yang berkecimpung dalam industri kelapa sawit juga menjalankan upaya serupa.

Secara khusus, Asian Agri intens terhadap peningkatan kemampuan petani dalam pertanian kelapa sawit berkelanjutan. Mereka rutin memberikan dukungan dan pendampingan supaya petani baik petani plasma maupun petani swadaya mampu melakukannya.

Bukan hanya itu, Asian Agri juga gencar mendorong para petani untuk mendapatkan sertifikasi keberlanjutan. Selain menjadikan proses perkebunan kelapa sawit ramah lingkungan, hal itu akan meningkatkan kesejahteraan petani. Pasalnya, pasar internasional mewajibkan sertifikasi terhadap produk kelapa sawit yang dijual sebagai bukti proses produksi yang bertanggung jawab.

Berbagai upaya ini menjadi dasar penting bagi pencapaian SDGs. Sebab, masyarakat terlibat hingga akhirnya menjadi sadar terhadap arti penting poin dalam SDGs seperti kelestarian lingkungan.

“Inisiatif keberlanjutan tidak bisa bertahan terus berlanjut jika dibangun hanya berdasarkan pola kerja sama dengan pemberian insentif temporer belaka. Sebaliknya, beragam contoh tadi (program yang dilakukan RGE, Red.) menunjukkan bahwa pemberdayaan pihak-pihak nontradisional lebih berguna dari pada menjadikan mereka sebagai penerima bantuan secara pasif,” papar Anderson Tanoto.

Selama ini, program-program yang dijalankan oleh Royal Golden Eagle lebih mengarah kepada pemberdayaan. Masyarakat didukung supaya mampu mandiri. Akibatnya, mereka tidak akan selalu mengandalkan bantuan saja.

Diharapkan dengan upaya-upaya semacam ini, SDGs bisa tercapai. Target-targetnya terpenuhi, tidak seperti MDGs yang gagal digapai. Royal Golden Eagle akan gencar memberikan dukungan dalam upaya pencapaiannya.

Leave a reply "Royal Golden Eagle Mendukung Upaya Pencapaian Sustainable Development Goals"